Product Validation : Kunci dibalik Keberhasilan Product

product development

Written by: Dicky

Studi dari CB Insight mengungkapkan bahwa 35% dari 110+ startup mengalami kegagalan salah satunya disebabkan karena mereka membuat suatu produk yang ternyata tidak dibutuhkan oleh pasar. Hal ini layaknya membuang-buang energi dan sumber daya kita ke hal yang tidak ada gunanya. Coba kita bayangkan, kita sudah berminggu-minggu menghabiskan waktu untuk meeting dari tim satu ke tim lainnya, meyakinkan banyak stakeholder agar dapat memiliki kesamaan visi, tapi pada saat kita launch produknya malah tidak ada yang mau pakai. Pasti sedih banget yah :(

Sebagai seorang PM kita tentu tidak menginginkan hal semacam ini terjadi. Kita menginginkan bahwa product yang kita bangun dengan susah payah dapat bermanfaat untuk user kita dan tentunya membawa dampak positif juga terhadap perusahaan

Tapi, memangnya bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah karena PM terlalu percaya diri dengan asumsi-asumsi terhadap produk yang akan dibuat. Pada dasarnya asumsi itu mungkin bisa benar, tapi mungkin juga salah. Dan disinilah seorang PM hendaknya tidak berjudi dengan membawa tim kita untuk mengerjakan sesuatu yang landasannya belum jelas. Disinilah perlu adanya proses untuk mengubah asumsi-asumsi tersebut menjadi fakta.

Lalu, apa solusinya? Jawabannya adalah melakukan Product Validation. Yap, kita harus memvalidasi berbagai aspek dari produk kita sebelum kita menghadirkannya kepada user (atau bahkan sebelum dilakukan proses development oleh engineer). Dengan melakukan Product Validation kita dapat memvalidasi aspek-aspek penting dan krusial dalam kesuksesan produk kita sehingga kita dapat secara efektif dan efisien mencurahkan segala effort kita untuk membangun sesuatu yang memang dibutuhkan oleh user dan juga mampu berkontribusi positif terhadap bisnis. 

Tapi, Apa sih itu Product Validation? Terkait ini ada satu artikel dari Digital Natives yang menurut saya dapat menjelaskannya secara sederhana dan mudah dipahami. Dalam artikel tersebut, Product Validation didefinisikan sebagai proses untuk menguji coba ide kita ke user potensial guna mendapatkan feedback terkait kelayakan produk. Tujuan dari proses ini adalah untuk menunda pekerjaan per-codingan yang mahal dan memakan waktu sampai kita yakin bahwa ide tersebut akan sukses. 

Proses validasi tersebut menjadi penting karena pada kenyataannya seorang PM selalu terikat oleh keterbatasan resource yang dimiliki seperti waktu, tenaga, dan biaya. Oleh sebab itu Kita sebagai PM perlu efisiensi dalam penggunaan resources karena tentunya kita tidak mau mengalokasikan waktu dan tenaga kita untuk sesuatu yang tidak digunakan/dibeli orang. Jadi dapat dikatakan bahwa Product Validation adalah proses penting untuk meminimalisir cost dan mengoptimalkan peluang kita untuk sebuah launching yang sukses.

Ok, terus caranya gimana?

Cara untuk melakukan Product Validation sangat beragam, tergantung pada kebutuhan dari produk itu sendiri. Jadi kita tidak ada yang benar ataupun yang salah, kita hanya perlu menemukan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan produk kita. Sebagai referensi, berikut ini merupakan 3 hal yang dilakukan Andreas Senjaya, Co-Founder & CEO iGrow, dalam melakukan Product Validation.

  1. Validasi market

Jika kita membuat suatu produk yang benar-benar baru, sebelumnya kita perlu memastikan bahwa produk tersebut memiliki potensi market yang cukup besar agar dapat menghasilkan revenue yang besar juga untuk perusahaan. Jadi setidaknya effort yang kita keluarkan sebanding dengan potensi hasil yang mungkin kita dapatkan. Kemudian jika kita melakukan improvement dari suatu product yang sudah ada, maka kita perlu melihat seberapa banyak user yang peduli dengan improvement tersebut, seberapa banyak user yang benar-benar membutuhkan improvement tersebut. Lagi-lagi tujuannya sama, yaitu agar effort yang kita keluarkan sebanding dengan hasil atau dampaknya.

  1. Validasi problem

Kita perlu memastikan bahwa kita membuat solusi untuk sebuah permasalahan yang memang layak untuk diselesaikan. Jangan sampai kita membuat solusi atas masalah yang sebenarnya tidak penting diselesaikan menurut target user kita. Jangan sampai kita membuat sesuatu yang ada atau tidaknya itu tidak memiliki pengaruh terhadap hidup mereka. Maka perlu kita lakukan validasi masalah agar kita tepat dalam menyasar masalah-masalah yang menurut user penting dan berpengaruh untuk hidup mereka.

  1. Validasi solution

Melakukan validasi solusi artinya kita memastikan apakah solusi yang kita buat benar dapat menyelesaikan masalah dari user dan apakah mereka kita ingin menggunakan solusi tersebut untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Dan untuk beberapa produk yang berbayar, kita juga perlu memastikan willingnes to pay dari user, apakah mereka bersedia membayar atas solusi yang kita ciptakan tersebut? Seberapa tinggi mereka bersedia membayar solusi tersebut? Beberapa hal tersebut menjadi penting untuk kita validasi karena pada dasarnya kita sebagai PM ingin product kita digunakan serta bermanfaat untuk user kita dan pada akhirnya membawa manfaat untuk perusahaan juga.

Berikut merupakan beberapa hal penting untuk kita validasi dalam proses mengembangkan suatu produk. Meskipun proses validasi ini tidak akan pernah bisa menggaransi bahwa produk yang akan kita luncurkan ini akan 100% sukses, namun dengan melakukan validasi setidaknya kita dapat meningkatkan peluang kita menjadikan produk tersebut menjadi sukses.

Semoga artikel ini dapat membantu teman2 untuk menciptakan produk yang sukses ya, good luck and keep learning!

Referensi :

https://www.digitalnatives.hu/blog/product-validation/#:~:text=Product%20validation%20is%20the%20process,money%20and%20time%20on%20development.

https://www.svpg.com/product-validation/

https://pixelgrow.com/blog/what-is-product-validation-and-how-to-benefit-from-it/

https://www.zeitspace.com/product_validation

https://www.youtube.com/watch?v=qDYd6WKiCOs&ab_channel=Founder%2B