Cara Menjawab Guesstimation Saat Interview Product Manager

May 10, 2022

Written by: Haarits

Berapa banyak iPhone yang dijual di Indonesia dalam satu tahun?

Berapa jumlah bola golf yang bisa dimasukkan ke dalam sebuah bus?”

“Berapa market value dari seluruh bioskop di Indonesia?” 

Pernah dengar pertanyaan seperti di atas di saat kamu sedang mengikuti interview sebagai Product Manager? 

Yap, betul! Pertanyaan di atas adalah pertanyaan estimasi / guesstimation. Guesstimation adalah pertanyaan populer yang sering ditanyakan saat interview Product Manager (PM). Dalam keseharian seorang PM akan selalu menghadapi “big unclear problems”, dimana seorang PM dituntut untuk mampu berpikir analitis sekaligus kreatif untuk memecahkan masalah tersebut. Dari guesstimation, rekruter PM dapat menilai kemampuan berpikir analitis, problem solving dan creativity dari seorang kandidat PM.

Secara umum, pertanyaan estimasi / guesstimation terdiri dari 2 jenis yakni:

    1. Market Sizing, contoh: “Berapa jumlah mobil merk X terjual di Indonesia” atau “Berapa total market value dari flight insurance di US?
    2. General Estimation/Guesstimate, contoh:  “Berapa jumlah piano di Jakarta?” atau “Berapa jumlah bola futsal yang bisa masuk ke dalam Airbus A380?

 

 

Kalau kita baca sekilas, pasti bakal mikir “ya kali, gimana gue bisa ngitung gituan?”. Padahal kata pepatah, “where there’s a Will, there’s a Smith Way” :D

Gak usah pake lama, yuk cek langsung di bawah aja gimana sih approach cara menjawab pertanyaan estimasi pada interview untuk berhasil menjadi seorang PM.

Case: “Berapa market value dari industri bioskop di Indonesia?” 

1. Selalu mulai menjawab dengan bertanya

 

Nah lho, mau jawab kok malah nanya? Eits, tapi ini beneran. Langkah pertamanya adalah selalu bertanya dahulu, bisa berupa pertanyaan “Why” / “Kenapa harus menghitung itu?” kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan klarifikasi (untuk 2 case di atas) seperti “Industri bioskop apakah termasuk penjualan makanan dan minuman?” atau “Brand bioskop apa yang akan dihitung?”

Kerap kali setelah kita bertanya, banyak pertanyaan yang dilempar balik untuk kita asumsikan sendiri. Jangan khawatir, kamu selalu bisa mengasumsikan hal-hal yang perlu diasumsikan selama semuanya make sense.

2. Pilih pendekatan yang sesuai: Top Down vs Bottom Up 

 

Pendekatan Top Down dimulai dari angka yang paling besar (e.g. populasi masyarakat Indonesia), kemudian diturunkan/dipecah ke arah jawaban yang dituju. Sedangkan pendekatan Bottom Up dimulai dengan angka kecil/individual kemudian ditambahkan atau dikalikan hingga menuju ke arah jawabannya. Biasanya, pendekatan Top Down akan menimbulkan lebih banyak uncertainty / asumsi jika banyak data yang kita tidak tahu. Namun, selalu ingat bahwa tidak ada jawaban yang benar atau salah. Mau menggunakan Top Down atau Bottom Up selama jawabanmu terstruktur, analitis dan masuk akal, interviewer pasti akan menerima jawaban tersebut. 

Contoh Top Down Approach: 

start dari populasi Indonesia > estimasi berapa persen orang yang menonton bioskop > estimasi berapa kali rata-rata orang menonton bioskop dalam satu tahun > estimasi harga rata-rata tiket bioskop > kali kan semua variabel sebelumnya dan jawaban ditemukan.

Contoh Bottom Up Approach:

Start dari jumlah teater dalam satu bioskop > estimasi jumlah penayangan film dalam 1 hari > estimasi jumlah penonton per satu teater per film > estimasi harga tiket bioskop > jumlah hari di Indonesia > kalikan semua variabel dan didapatkan total market value dalam 1 bioskop per tahun > estimasi jumlah bioskop di seluruh Indonesia > dikalikan total market value 1 bioskop per tahun dengan jumlah bioskop di seluruh Indonesia > jawaban ditemukan.

3. Buat asumsi perhitungan dan bulatkan angka-angka

 

Ketika sudah menentukan pendekatan yang sesuai, pasti ada aja perhitungan yang membutuhkan asumsi. Feel free untuk mengasumsikan perhitungan yang diperlukan selama itu masuk akal dan selalu bulatkan angka-angka perhitungan agar memudahkanmu selama proses berpikir. Ingat, interviewer tidak mencari jawaban akhir benar atau salah tapi melihat cara berpikirmu.

4. “Sense-check” jawabannya

 

Kamu bisa cek secara sekilas, kira-kira jawaban dari pendekatan estimasi yang kamu buat sudah masuk akal / make sense atau engga, sih. Misal, untuk pertanyaan case bioskop di atas kalau kamu mendapat angkanya cuma sekitar seratus juta rupiah, I believe it doesn’t make sense. Ketika kamu merasa jawabanmu kurang masuk akal, kamu bisa meminta waktu lebih kepada interviewer untuk memastikan ulang step-step perhitungan yang kamu buat sudah benar atau belum.

5. Summarize jawabanmu serta pendekatan dan asumsi yang kamu gunakan

 

Penting bagi kita semua untuk tidak hanya menjawab angka akhir hasil perhitungan, tapi menjelaskan sejelas mungkin pendekatan dan asumsi yang kamu gunakan untuk mencapai jawaban tersebut.

Demikian tips menjawab pertanyaan guesstimation untuk interview PM dari saya. Selalu ingat bahwa selama interview sebaiknya jangan panik, karena kepanikan dapat mengacaukan cara berpikir kita terlebih dalam menjawab pertanyaan yang membutuhkan analytical thinking, problem solving & creativity seperti pertanyaan guesstimation ini. Cheers!